Seminar - Luring
Architalk 0.2 – Lightscape : Understanding the Impact of Architectural Lighting in Shaping Minds and Perception
Pencahayaan mempunyai peran krusial dalam memberikan pengalaman ruang bagi
pengguna. Sebagai contoh, suasana mendung dengan pencahayaan yang remang sering dikaitkan
dengan suasana yang cocok untuk merenung, sedangkan suasana gelap dengan pencahayaan yang
redup dikaitkan dengan suasana yang intens dan intim. Hal ini terjadi karena cahaya dapat
berperan dalam mengatur perasaan seperti rasa bahagia, sedih, nyaman, cemas, dan berbagai
perasaan lainnya yang dirasakan oleh emosi manusia.
Sebagai perancang, faktor pendukung pencahayaan pada penciptaan suasana (ambience)
harus dapat dimengerti dengan baik. Salah satu faktor pendukung pencahayaan dalam penciptaan
suasana (ambience) adalah warna yang dapat dihasilkan dari dispersi cahaya. Dispersi cahaya
dapat diartikan sebagai peristiwa penguraian cahaya polikromatik menjadi cahaya monokromatik
atau cahaya tunggal ketika cahaya melewati sebuah media atau benda tertentu (misalnya air
hujan, prisma, dan gelas). Warna-warna yang dihasilkan dari proses dispersi cahaya akan
memiliki citra yang berbeda-beda terhadap suasana yang dirasakan oleh pengguna ruang dan
tentu saja akan diperuntukkan dengan tujuan serta fungsi ruang yang berbeda-beda.
Selain warna, bayangan menjadi salah satu efek dari pencahayaan lainnya yang dapat
berpengaruh terhadap psikologi pengguna. Pada nyatanya, bayangan lebih sering dijadikan suatu
pemikiran desain dibandingkan pemikiran penciptaan suasana (ambience) pengguna untuk
menghasilkan suasana yang sesuai keinginan. Bayangan sebaiknya dapat menjadi suatu
pertimbangan penciptaan ambience yang cukup besar. Manipulasi cahaya dan bayangan yang
digunakan dalam Masjid Amir Hamzah menjadi salah satu contoh nyata yang terjadi.
Perancangan cahaya dan bayangan bangunan ini memberikan suasana yang intim berdasarkan
fungsi utama serta dapat dijadikan penanda shaf sholat sebagai manfaat tambahan. Oleh karena
itu, respon arsitektur yang dihasilkan dari analisa kebutuhan pengguna ruang dan faktor
pendukung harus sesuai dengan suasana atau citra yang ingin dihadirkan. Respon desain
arsitektur harus dapat menunjang citra ruang melalui permainan cahaya, warna, serta bayangan
yang mempengaruhi interpretasi terhadap identitas ruang itu sendiri.
Sabtu, 20 Juli 2024
Pukul 13.30 - 17.30 WIB
Indonesia Design District, Jl. M.H. Thamrin, Salembaran, Kec. Kosambi,
Kabupaten Tangerang, Banten