Oleh Hedista Rani Pranata


Dalam segala aspek kehidupan, kita mengenal bahwa ada 2 jenis komunikasi yang umum, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Di bidang arsitektur, komunikasi nonverbal bisa merupakan dialog dan pengalaman antara ruang/karya arsitektur terhadap penggunanya. Sedangkan komunikasi verbal dalam hal arsitektur, adalah komunikasi yang mendahului komunikasi nonverbal. Komunikasi yang telah mengalami proses interpretasi sebelumnya—dalam hal ini, oleh arsitek—kemudian diteruskan kepada pihak lain. Proses di mana seorang arsitek memegang peran penting dalam hubungannya dengan pihak lain (baik itu client ataupun builder), hingga kelanjutan proyeknya.

Komunikasi dalam arsitektur biasanya dikenal melalui visual, yaitu gambar presentasi dan gambar teknik. Komunikasi visual arsitektur telah berkembang dengan sangat cepat seiring dengan kemajuan teknologi, meliputi sketsa, bentuk 3 dimensi, gambar perspektif, renderings, diagram, maket, dan masih banyak lagi. Namun jika mengacu pada pengertian sebelumnya, maka alat komunikasi ini sebenarnya hanyalah komunikasi nonverbal. Masih ada alat komunikasi yang diabaikan oleh institusi dan praktisi arsitektur, yaitu komunikasi verbal.

Masalah dalam komunikasi bukan hal yang jarang terjadi dalam dunia arsitektur. Ketika seorang arsitek memegang “pensil”, maka seluruh ide dan pemikirannya yang “liar” akan ia tuangkan ke dalam bentuk-bentuk kesatuan fungsi.

Gambar 1. Konsep dasar Bordeaux Villa oleh OMA. (sumber: dokumentasi pribadi)

Sebagai contoh, gambar di atas adalah sketsa tangan Rem Koolhas yang merupakan ide dasar Bordeaux Villa di Perancis. Jika hanya berhenti pada sketsa ini, tentu saja beliau tidak akan bisa melanjutkan proyeknya. Mungkin para arsitek akan langsung paham dengan sketsa ini, namun untuk klien yang memiliki background pengetahuan yang berbeda dengan arsitek, tentunya akan mengalami kesulitan dalam memahaminya. Untuk itu perlu ada komunikasi verbal yang dilakukan oleh arsitek untuk menjelaskan dunia imajinasinya dan kreativitasnya. Seperti yang dilakukan Rem, beliau langsung menghubungi Cecil Balmond sebagai ahli struktur untuk diajak berdiskusi bagaimana mewujudkan rumah “melayang” tersebut [1]. Tidak berjalan mulus, proyek ini terbentur berbagai masalah dari bentuk hingga anggaran, namun semuanya dapat diatasi dengan kualitas komunikasi yang baik.

Tidak hanya kepada klien, namun juga kepada pihak-pihak lain yang terkait. Keperluan komunikasi dalam arsitektur tidak terbatas pada suatu karya oleh seorang arsitek saja, namun juga bisa menghubungkan dengan proyek/disiplin lainnya. Alhasil, karya tersebut tidak hanya memenuhi kepentingannya sendiri, namun lebih besar dari itu. Untuk itulah, diperlukan adanya tekanan yang lebih besar dalam komunikasi lisan dan tertulis dalam arsitektur. 

Pendidikan Arsitektur Sebagai Bekal

Proses pembekalan ini harusnya bisa dimulai dari masa kuliah.Pada tahun 2015, Arbuckle Industries mendokumentasikan kehidupan mahasiswa arsitektur yang dilakukan di Pratt University, New York. Film dokumenter bertajuk “Archiculture” ini diunggah dan dapat disaksikan gratis lewat portal YouTube. Pendidikan arsitektur di Amerika bisa dikatakan salah satu dari yang terbaik di antara negara maju lainnya. Jika berbicara tentang sekolah arsitektur, maka sudah pasti dilengkapi dengan sistem studio, di mana biasanya ini menjadi rumah kedua para mahasiswa. Mereka disediakan fasilitas cubicle sendiri, tempat mereka dengan bebas bereksperimen dan mengeksplorasi diri. Yang lebih penting, dengan sistem studio ini, mereka dibiasakan hidup mandiri sekaligus berinteraksi dalam komunitas, sehingga mereka bisa saling berbagi, memperkaya diri dan orang lain. Bahkan untuk beberapa universitas menyediakan fasilitas studio ini hingga 24 jam, dilengkapi dengan fasilitas 3D printer, pemotong maket, dan peralatan mumpuni lainnya yang menunjang kebutuhan para mahasiswa dalam berkarya.

Sistem studio ini bukan hanya kebetulan diciptakan sebagai wadah kreatif. Di ruang studio, mahasiswa membentuk sebuah komunitas yang intim, karena mereka dikondisikan untuk menghadapi persoalan yang sama, namun dengan jawaban yang berbeda-beda. Sistem ini hampir serupa dengan peer learning. Peer learning adalah pembelajaran dua arah yang menghasilkan simbiosis mutualisme antar individu dan melibatkan pertukaran pengetahuan, ide, dan pengalaman. Sistem ini dapat digambarkan sebagai cara untuk mengubah individu yang independen menjadi interdependen [2]. Mahasiswa belajar menjelaskan ide mereka kepada rekannya yang lain, dan dengan berpartisipasi dalam komunitas ini, mereka pun dapat belajar dari rekannya. Mereka akan mengembangkan kemampuan organisasi dan perencanaan, berkolaborasi, serta memberi dan menerima timbal balik dalam evaluasi. Peer learning menjadi hal yang sangat penting dalam disiplin ilmu arsitektur.

Menurut data statistik dari UIA, Indonesia menempati urutan ke 3 dari negara ASEAN lain dalam hal jumlah arsitek dan mahasiswa arsitek, yaitu 6.000 arsitek dan 32.875 mahasiswa arsitektur [3]. Ini jadi hal yang membanggakan tapi sekaligus menjadi pertanyaan: apakah jumlah mahasiswa arsitektur yang banyak ini menjadi cerminan tentang kualitas sekolah arsitektur di Indonesia?

Sebagai barometer, saya akan mengangkat Jurusan Arsitektur UNTAR di Jakarta yang notabene mendapat akreditasi A. Sistem studio perancangan memang ada, tapi setiap anak tidak memliki meja privat, karena studio ini dipakai bergilir dengan studio/kelas lain. Adapun studio privat diberikan hanya kepada mahasiswa tingkat akhir, masa pemakaiannya pun kurang dari 1 semester, dan juga dibatasi dari jam 8 sampai jam 5 saja. Lebih dari itu, mahasiswa diusir. Hal ini tentu membuat sistem studio menjadi kurang efektif, karena tempat mereka yang selalu berubah, membuat mereka tidak terlalu merasakan rasa kepemilikan dengan workspace mereka, mengurangi rasa peer learning yang sebenarnya mereka butuhkan.

Terlepas dari sistem studio, ada poin lain yang seringkali terlewatkan dalam sekolah arsitektur. Dengan tenggat waktu dan tugas yang banyak, mahasiswa dipaksa untuk menyelesaikan tugas mereka sebelum mereka benar-benar memahami apa yang ditugaskan. Mereka cenderung takut untuk dihakimi (dalam kritik dan pleno) daripada bernalar secara empiris [4]. Kecenderungan tersebut menjadi masalah utama dan dikecam oleh Steven Bingler dan Martin C. Pedersen, yang pada tahun 2014 di New York Times menulis, “Kita telah mengajarkan arsitek generasi muda untuk berbicara seperti seniman. Tapi kita belum mengajari mereka cara mendengar.”

Masalah ini nampaknya terletak di sistem studio yang masih berbasis argumen: mahasiswa membuat sebuah proyek, berjuang sekuat tenaga untuk berpendapat bahwa proyek itu akan berhasil; sedangkan dosen akan berusaha mengkritik dan berpendapat bahwa proyek tersebut akan gagal. Jenis wacana ini memiliki nilai subyektif yang sangat kuat. Menurut peneliti Leonard dan Christine Bachman [5], subjektifitas dan sistem argumen ini memang berkaitan dengan arsitektur, tetapi seringkali terlalu banyak waktu dibuang di sini. Sedangkan hal yang lebih obyektif, seperti analisis, sistem spasial, atau generasi bentuk parametrik hanya menjadi “hiasan” dalam kurikulum pendidikan arsitektur. Di sinilah, kita semua telah melewatkan poin penting, di mana seharusnya bentuk komunikasi adalah 2 arah, bukan hanya aktif berbicara, tetapi juga harus aktif mendengar.

Komunikasi sebagai Kunci Profesionalisme

Untuk berkomunikasi dengan lancar dalam arsitektur, bahasa arsitektur menjadi hal yang fundamental, baik nonverbal maupun verbal. Komunikasi verbal dalam arsitektur perlu memperhatikan aspek tambahan, seperti diksi, pengucapan, kehadiran pikiran, fluiditas, dan kepercayaan diri terlepas dari isi. Hal-hal inilah yang benar-benar mendorong komunikasi verbal, karena jenis komunikasi ini seperti ujung tombak bagi para arsitek—bisa mengantarkan kepada keberhasilan proyek atau malah membuang prospek. Komunikasi yang baik perlu dijalin tidak hanya kepada client, tapi juga kepada sesama pekerja, regulator, publik, dan yang tidak kalah penting, media.

Hal ini sebenarnya terkait dengan Good Governance profesi arsitek IAI [6], terutama untuk poin daya saing global. Seharusnya, mahasiswa arsitektur yang jumlahnya mencapai 32 ribu itu tidak hanya sekedar menyandang gelar sarjana teknik/sarjana arsitektur, tapi juga bisa menekuni profesinya dengan memiliki daya saing yang sama seperti negara-negara lainnya.

Sebagai penutup, bukan jaminan bahwa dengan kemampuan komunikasi arsitek yang buruk tidak akan membawa suatu proyek menjadi sukses atau mendapat sorotan. Arsitektur yang baik pasti akan selalu terasa bagi para penggunanya, namun komunikasi lisan dan tertulis dalam perspektif yang benar akan menjadi dorongan yang kuat untuk itu. Komunikasi dua arah harus tetap menjadi alat penting untuk mengeksplorasi, memahami, mendokumentasikan, dan mengartikulasikan arsitektur.

“Professionals who know their subject area well know how to communicate their knowledge to others in everyday language.”—Matthew Frederick, 101 Things I Learned in Architecture School.



Catatan.

  1. Balmond, C., 2007. Informal. Munich: Prestel.
  2. Boud, D., 2001. Peer Learning in Higher Education: Learning from & with Each Other. Abingdon: Routledge.
  3. Uno, S., 2016. Arsitek Indonesia Menuju Kompetisi Global.http://halloapakabar.com/arsitek-indonesia-menuju-kompetisi-global. Diakses tanggal 23 Juni 2017.
  4. Brady, R., 2017. Why Millenials Need Less Studio Time in Architecture School.
    https://architizer.com/blog/architecture-education/. Diakses tanggal 1 Juli 2017.
  5. Bachman, L. & Bacman, C., 2009. Affecting Change in Architectural Education. ARCC Journal, 6(1), hlm. 4-5.
  6. Ikatan Arsitektur Indonesia, 2007. Kode Etik Arsitek dan Kaidah Tata Laku Profesi Arsitek. Jakarta: Badan Sistem Informasi Arsitektur Ikatan Arsitek Indonesia.

Image credit: Bordeaux Villa, architizer.com