MENGELOLA PERSEPSI DALAM DESAIN

A SPACIOUS LIVING TALKSHOW, THE LOGGIA X IAI JAKARTA


Teks : Sunthy Sunowo

Perubahan jaman dan perkembangan teknologi sedikit banyak merubah perilaku orang dalam beraktivitas. Di sisi lain, kualitas hidup kembali dipertanyakan dalam konteks harga properti yang semakin tinggi, sehingga menuntut desain dengan kreativitas serta riset lebih jauh agar mampu menjawab evolusi permasalahan dari waktu ke waktu.

IAI Jakarta berkolaborasi dengan Farpoint Realty menyelenggarakan acara Design Knowledge Sharing dengan tema “The Art of Spacious Living” pada tanggal 15 Maret 2019 yang lalu. Acara yang diselenggarakan di Marketing Gallery & Show Unit The Loggia di Jalan Duren Sawit Raya, Jakarta Selatan ini mengundang Yoshiharu Sukamoto dari Atelier Bow Wow, Jepang sebagai desainer interior apartemen The Loggia. Sementara itu, nara sumber dari Indonesia adalah Cosmas Gozali dari Atelier Cosmas Gozali dan Dani Hermawan dari Formologix.

Dalam paparannya, Yoshiharu Sukamoto mendudukan pemahaman tentang ‘spacious living’ dengan teori behaviorology yang menjadi dasar dari semua desain Atelier Bow Wow. Teori ini dikembangkan dari pengalaman firma ini mengerjakan proyek di Jepang yang sebagian besar memiliki keterbatasan luas lahan. Melalui pengamatan dan riset, teori ini menyoroti bagaimana orang Jepang memahami ruang kehidupannya dari generasi ke generasi.  

Menurut Yoshiharu Sukamoto, generasi pertama memiliki lahan yang cukup luas, kemudian terbagi menjadi bidang-bidang lahan kecil ketika diwariskan kepada keturunannya. Inilah yang menyebabkan rumah di Jepang menjadi semakin kecil. Tantangannya kemudian terletak pada bagaimana merancang ruang hidup yang cukup nyaman dan masih memiliki ruang untuk personifikasi di dalam luas lahan yang sangat kecil.

Dimensi ruang pada umumnya sudah tentu tidak memungkinkan lagi digunakan, tetapi pengguna ruang harus tetap memiliki kenyamanan dalam beraktivitas. Oleh karena itu, pemahaman tentang kultur dan kebiasaan pengguna ruang akan sangat penting bagi desainer untuk mengolah ruang dan menyuguhkan persepsi nyaman.

Dalam contoh-contoh karya yang dipresentasikan Yoshiharu Sukamoto, terdapat garis besar dalam menghadirkan kenyamanan di ruang berukuran terbatas. Memasukkan cahaya matahari dan sirkulasi udara menjadi faktor yang sangat penting. Ruang-ruang kemudian harus mampu mewadahi multifungsi baik secara adaptif maupun multifungsi. Strategi inilah yang juga mendasari desain interior apartemen The Loggia.

Dua tipe apartemen The Loggia adalah tipe 3 kamar tidur dengan luas 75-89mdan tipe dua kamar dengan luas 115-117m2. Di tangan Atelier Bow Wow ruang-ruang di dalamnya tetap memiliki dimensi yang nyaman dengan detail-detail menarik yang membuat pemanfaatan ruang menjadi lebih efisien. Di beberapa ruang, seperti ruang keluarga dan ruang makan memanfaatkan area yang sama dengan detail meja lipat dan tatanan duduk di lantai (lesehan) sehingga mampu mengurangi penggunaan furnitur.

Kasus yang berbeda menjadi paparan Cosmas Gozali melalui proyek rumah di India. Tantangan hadir dari kebiasaan sebuah rumah dihuni oleh tiga hingga empat generasi. Karena kebutuhan privasi oleh setiap keluarga, rumah terbagi menjadi beberapa bagian untuk setiap keluarga yang tinggal di dalamnya. Setiap unitnya memiliki dapur dan ruang tamu sendiri, sehingga membutuhkan pengelolaan ruang yang efisien di dalam lahan terbatas.

Untuk mencapai konfigurasi ruang yang optimal, Cosmas Gozali melakukan studi bentuk agar setiap bagian rumah mendapatkan penghawaan dan pencahayaan yang baik sekaligus juga privasi di setiap bagian. “Dengan harga properti yang sangat mahal, biasanya orang India di sana tidak mau membuang ruang. Kali ini saya mencoba membujuk klien saya untuk mau menyisakan ruang dengan tujuan membuat ruang yang lain menjadi lebih baik,” jelas Cosmas Gozali.

Baik Yoshiharu Sukamoto maupun Cosmas Gozali menempatkan pemahaman akan kultur, kebiasaan dan juga pengondisian iklim mikro sebagai cara untuk bisa mewujudkan kualitas ruang yang akan terasa nyaman. Lain halnya dengan Dani Hermawan dengan proyeknya yang justru ruang publik. Proyek Kirana dome dan riverside deck di Kawasan Wisata Lenggang, Belitung adalah ruang publik yang proses perancangannya justru bertujuan memberikan stimuli ruang dan visual pada kawasan wisata alam.

Dome dan riverside deck ini mendapatkan respon positif dari pengunjung dan menjadikan ruang-ruang yang terbentuk menjadi ruang positif dan mampu menambah nilai daya tarik kawasan ini. Desain di sini justru melakukan intervensi terhadap ruang alam yang tidak terbatas menjadi terdefinisi tanpa merusak keindahan alam dan justru memberikan fasilitas dan kenyamanan untuk menikmati keindahan alam.

Dome yang berfungsi sebagai shelter melalui metora komputasi untuk menjadi modular dengan ukuran efisien yang tidak hanya nyaman dinikmati secara visual, tetapi juga memudahkan proses konstruksi dan instalasi di lapangan. Tantangan dan hambatannya bukan lagi pada luasan lahan yang terbatas, tetapi bagaimana ruang-ruang yang terbentuk tidak menjadi negatif atau tidak bermanfaat.

Dani Hermawan juga memaparkan pilihan-pilihan material yang digunakan pada pengembangan selanjutnya. Perbedaan kualitas material, bagaimana respon material pada cahaya matahari, dan juga daya tahannya merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan mengolah persepsi dalam mewujudkan ruang di area publik.

Ketiga naras umber memaparkan pendekatan desainnya masing-masing dengan cara yang paling bijak untuk merespon luasan yang tersedia. Melalui riset dan pemahanan akan konteks, kultur, dan juga kebiasaan pengguna serta kecenderungan perilaku pengguna, desain adalah cara untuk mengolah persepsi. Kesan lapang, nyaman, dan juga aman merupakan hasil dari serial skenario bidang, mengolah cahaya matahari, memastikan penghawaan yang baik, dan juga mendekati karakter kegiatan dan kultur yang menjadi konteksnya. Segala keterbatasan dan tantangan dalam desain kemudian terjawab dengan cukup sensitif mengenali masalah dan menjawabnya dengan kreatif mengolah persepsi yang diwujudkan dalam desain.