Oleh      : Sylvania Hutagalung

Konteks urban Jakarta merupakan salah satu konteks kota dengan karkater urban yang menyuguhkan lapis-lapis masalah dan potensi yang cukup menantang. Kecakapan arsitek dalam mengolah dan meresponnya sehingga terakomodasi dalam sebuah karya yang baik menjadi salah satu kecakapan yang tampaknya harus dimiliki oleh setiap arsitek yang berpraktik di Jakarta. Dalam merancang bangunan-bangunan untuk fasilitas publik, arsitek tidak hanya harus memikirkan aspek desain dan keteknikan, namun juga aspek-aspek urban yang melatari sebuah karya. Hotel Doubletree by Hilton Jakarta, yang menyabet Penghargaan Pujian dalam Penghargaan IAI Jakarta 2015, adalah salah satu karya yang mampu menyuguhkan interaksi yang baik antara bangunan publik dengan lingkungan di sekitarnya.

Olah massa bangunan yang baik dan dinamis mampu menghadirkan ruang-ruang dalam dan ruang-ruang luar yang saling berinteraksi dan penuh kejutan.
Foto: agoda.com

Hotel Doubletree by Hilton Menteng-Jakarta, adalah karya duo arsitek Budiman Hendropurnomo dan Dicky Hendrasto dari Duta Cermat Mandiri (DCM).Dalam proses penjurian Penghargaan IAI Jakarta 2015, sumbangsih arsitektur pada kekayaan skyline visual ruang kota menjadi pertimbangan utama yang menjadikan karya ini menonjol dibandingkan karya-karya lainnya.Pemikiran yang cermat dan holistik terhadap bentukan ruang kota adalah satu hal dasar yang sering diabaikan oleh para arsitek.

Lebih jauh lagi, kepekaan akan konteks urban Jakarta yang kompleks juga terlihat pada pilihan desain dimana letak bangunan sengaja dimiringkan 45 derajat dari arah pintu masuk dan jalan di depannya untuk memberi ‘ketegangan visual’ di area Menteng dan Cikini. Ketegangan ini hadir dengan adanya residual space antara bangunan dan tetangganya. Disamping itu, pilihan ini sekaligus memberi keuntungan karena panas pada di sisi terpanjang bangunan secara tidak langsung ikut ditangkal.

Dalam proses penjurian, kemampuan arsitek dalam menggubah bentuk arsitektur hotel Doubletreeberhasil mengundang decak kagum dari para juri. Gubah bentuk hotel yang dinamis dinilai memberikan nuansa baru yang segar pada lingkungan di Jalan Cikini Raya. Massa bangunan hadir dengan geometri yang sederhana namun dengan twist yang baik, sebuah keputusan desain yang memungkinkan hadirnya tatanan ruang-ruang dalam dan ruang-ruang luar (landscape)yang dinamis, penuh kejutan, dan atraktif. Keputusan untuk memundurkan bangunan di belakang pohon besar, yang merupakan pohon eksisting,juga sebuah keputusan yang pintar karena berhasil menjadikan pohon tersebut sebagai penanda yang kontesktual sekaligus menjadi identitas hotel Doubletree Jakarta. Dewan juri sepakat bahwa kelebihan utama dari bangunan ini adalah kemampuannya untuk berbaur dengan lingkungannya meski hadir sebagai bangunan tinggi.

Hotel Doubletree by Hilton Jakarta melakukan keputusan desain yang pintar dengan memutar massa bangunan 45 derajat untuk memberi ruang interaksi antara Menteng dan Cikini.
Foto: IAI Jakarta

Meski begitu, beberapa kritik dari dewan juri juga menyoroti kecenderungan hotel-hotel baru, termasuk bangunan Hotel Doubletree, yang selalu memilih hadir dalam komposisi podium dan menara. Pemilihan bentuk podium dan menara ini dirasa kurang memberikan suntikan inovasi pada tipologi hotel urban pada umumnya. Lahan Hotel Doubletree yang cukup luas seharusnya mendorong arsitek untuk berani melakukan eksperimen bentuk yang lebih luwes. Begitupun akses bagi pejalan kaki yang kurang baik, tidak luput dari kritik dari dewan juri. Posisi Hotel, secara geografis, sebenarnya sangat memungkinkan untuk diadakannya jalur pejalan kaki yang terintegrasi dengan fasilitas publik di sepanjang Jalan Cikini Raya. Disamping itu, hadirnya Stasiun Cikini dan Stasiun Gondangdia yang masih dalam jarak nyaman untuk dijangkau dengan berjalan kaki, baik dari dan menuju Hotel, juga tidak dimanfaatkan dengan baik dalam perancangan. Dewan juri pun menyayangkan kelebihan lain, berupa pilihan moda transportasi umum yang cukup beragam di sekitar hotel, yang juga tidak diakomodasi dalam preancangan tapak hotel. Kemungkinan koneksi pejalan kaki dengan transportasi masal seharusnya bisa menjadi kekuatan lain dari perancangan hotel, mengingat Jakarta adalah salah satu kota dengan masalah transportasi yang cukup serius. Sudah saatnya bangunan-bangunan publik, seperti hotel, mengambil bagian untuk mendorong warga kota gemar berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik. Salah satunya dengan mengakomodasi pejalan kaki dan pengguna transportasi publik, baik yang dari maupun menuju hotel.

Perancangan yang cermat tidak saja memikirkan aspek desain dan keteknikan, namun juga aspek urban dimana bangunan berdiri.
Foto: IAI Jakarta

Secara desain, Hotel Doubletree by Hilton Jakarta memang menawarkan sesuatu yang baru dan segar bagi ruang kota Jakarta. Tak bisa dipungkiri, arsitekturnya yang cermat dan luwes semakin menambah semarak wajah kota Jakarta. Publik pun disuguhi dengan sebuah karya yang memiliki detil visual yang sangat baik. Keseimbangan antara karakter kosmopolitan Jakarta dengan karakter kawasan Cikini yang moderat dan anggun, terangkum menjadi sebuah visual yang menarik. Bangunan fasilitas publik sudah seharusnya mampu menganggkat nilai kawasan melalui kehadirannya. Kesadaran dan kemampuan desain seperti ini diharapkan akan terus lahir dalam generasi baru arsitek-arsitek Jakarta di masa depan.




Sumber foto:

agoda.com

IAI Jakarta