Dalam masyarakat kesenian, simbol dan filosofi memiliki arti penting dalam memberikan makna. Sesuatu dapat diterima karena merepresentasikan nilai. Nilai adalah identitas yang mewakili persamaannya. Manusia Indonesia memiliki beragam suku bangsa dan budaya. Setiap budaya memiliki cirikhas yang tampak, ujud seni sederhana hingga tari-tarian tradisional yang dikemas menjadi pertunjukkan luar biasa. Maka agar bisa menghargai khasanah budaya bangsa tersebut salah satunya dengan memberikan tempat pertunjukan seni yang selayaknya.

-Dikala manusia memiliki kebutuhan yang terus menerus bertambah, arsitektur ada sebagai wadah kegiatan manusia- Bagaimanakah peran arsitektur dalam mewadahi kesenian?

Kami mengangkat Karya Primaldi Perdana yang berjudul Persembahan Bumi. Karya ini menjadi pemenang Sayembara Desain Bangunan proyek Gedung Pusat Seni dan Budaya Jawa Barat – West Java Art and Cultural Centre (WJACC) pada tahun 2017. Dalam konsep karya ini ditampilkan filosofi rangkaian pengalaman ruang spiritual, gotong-royong, persembahan, perayaan, doa, dan pesta. Adapun terdapat bentuk 'Sangu Tumpeng' sebagai cerminan budaya masyarakat yang syarat makna.

Disisi lain, perkembangan ilmu teknologi berkembang pesat mempengaruhi segala aspek kehidupan tidak terkecuali dalam bidang arsitektur. Proses penyampaian informasi dari seseorang kepada orang lain semakin cepat, didasari oleh kebutuhan dan keinginan untuk mempermudah pekerjaan, yaitu apa yang diinginkan oleh klien benar-benar dapat terpenuhi oleh seorang arsitek dan apa yang di desain oleh arsitek mudah dimengerti dalam aspek teknis visualnya.

Virtual Reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan lingkungan yang di-stimulasikan oleh komputer menjadi lingkungan yang seolah nyata dialami oleh pengguna. Arsitek dapat menggunakan virtual reality sebagai media komunikasi untuk membantu orang lain merasakan pengalaman ruang yang dibuatnya.

Dalam masyarakat arsitektur saat ini presentasi karya menggunakan animasi dan 3d modeling sudah umum dilakukan dan hanya beberapa yang sudah menggunakan VR. Apakah teknologi VR ini dapat menjadi babak baru dalam jurus presentasi arsitektur? Bagaimana dengan harga/budget yang digunakan untuk teknologi ini? Dan apa sajakah yang dibutuhkan untuk membuatnya?

Pembicara

  • Primaldi Perdana (arsitek, Labworks)
  • Jonathan Aditya (founder ARS)

Moderator

Putri Yulandari

Waktu dan tempat

Rabu 23 Agustus 2017 pukul 18.30 – 21.00, Bertempat di Jakarta Design Center (JDC), Ruang Flamboyan Lt.6

KUM: 2



Untuk pendaftaran di sini Terbuka Untuk Umum dan Gratis