Kantor Kedutaan (Chancery)

Merupakan bagian yang paling dominan dan secara konsep, paling penting; dimana ada 12 “billets” atau bongkahan-bongkahan berbentuk kotak dimunculkan dari tanah / landscape. Menandai adanya suatu tempat yang diistimewakan.

Komposisi ini menghasilkan konotasi seperti gugusan benda-benda raksasa seperti Ayers Rock / Uluru dalam bahasa aslinya yang ada di tengah landscape Australia Tengah, tanpa meniru bentuknya. Masing-masing dari ke 12 “billets”di tutup dengan logam-logam yang ditambang seperti : seng, baja, aluminium, corten steel dan tembaga, mencerminkan hasil tambang dan kekayaan mineral Australia. Bentuk chancery / kantor kedutaan sederhana sehingga mudah terekam; memberi kesan yang lebih kuat dan “subtle” dari negerinya.

Rumah Duta Besar

berbeda dengan karakter kantor chancery. Berlapis dua, didepannya memiliki courtyard dengan pergola tanaman, formal tetapi lebih intim. Rumah ini terdiri atas bentuk-bentuk panjang yang saling mengikat berhubungan, sehingga menghasilkan permainan gelap dan terang pada tampak bangunan.

Residential Unit

Rumah deret memanjang dari utara ke selatan, dua deret yang saling memunggungi dengan taman yang luas sekali sebagai courtyard diantaranya. Parkiran mobil berada di bawah courtyard ini. Masing-masing rumah di atur maju mundur agar secara perspektif view lebih dinamis. Green reconstituted timber menjadi kulit luar dari rumah-rumah tersebut.

Di ujung selatan terletak kolam renang dan tempat rekreasi; sarana basket dan tennis di letakan di area ini juga di batas pagar bagian barat. Lansekap Australian Embassy 30 meter perimeter garden mengelilingi kompleks ini; di penuhi oleh pohon-pohon tropis dan semua pohon besar yang tadinya berada di lahan 4 hektar.

Ada 3 pohon beringin karet raksasa dengan berat masing-masing 120 ton yang di pindahkan ke bagian depan Embassy. Karena besarnya, masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) Award. ESD (Enviromental Sustainable Design).

Beberapa inisiatif yang dikerjakan:

  • Façade design yang padat dengan bukaan jendela minimum berkualitas tinggi, sehingga panas matahar yang masuk minimum.
  • Pemakaian sensor dan “energy efficient” untuk pencahayaan interior.
  • Pemasangan “green roof” dengan rumput untuk membantu “storm water retention” dan melindungi waterproof membrane di atap; di samping mengurangi panas yang masuk dari atap beton.
  • Rain water harvesting dari atap bangunan untuk di pakai bersama recycled water dari STP untuk menyirami tanaman dan toilet flushing, juga make up water untuk swimming pool.

Sumber: Dokumen pribadi Penghargaan IAI Jakarta 2017 (diakses tanggal 16 Maret 2017)