Gereja Stella Maris adalah gereja dengan gubahan bahasa arsitektur yang kaya dan puitis. Beberapa ahli ada yang menafsirkan bentuk gereja ini sebagai sebuah rahim yang kemudian melahirkan metafora tentang embrio yang mana ini sejalan dengan sejarah gereja Stella Maris lama yang sering terendam banjir akibat lokasinya yang dekat dengan pantai utara Pluit Jakarta. Gereja baru memang dibangun untuk menggantikan gereja lama yang menua dan sudah tidak layak.

Sebagai metafora rahim, interior gereja memang terasa sunyi dan sederhana dengan elemen dekoratif yang minimal. Kesederhanaan bentuk dan warna dari dua material interiornya, yaitu kayu jati yang dibudidayakan di Jawa Timur dan batu abu-abu Andesit untuk lantai dan Selagedang untuk dinding melengkung di luar, mejadi estetika utama dari Gereja Stella Maris.

Kontras dan saling mengisi dari materialnya menjadi sebuah dialog yang menarik dalam pembentukan ruang yang sakral ini. Lempengan-lempengan kayu menjadi filter dari sinar matahari, memberikan penerangan lembut disiang hari, sedangkan dimalam hari lengkungan kayu tersebut memberikan cahaya refleksi yang temaran dari sinar lampu yang tersembunyi di cerukan “perimeter cove”.

Meskipun kapasitas jemaah bertambah dua kali lipat dari 750 menjadi 1700 orang, volume bangunan dijaga untuk tidak terlalu bulky. Bentuk oval yang mengecil ke atas, dimana bidang-bidang lengkungnya “menghilang” di tikungan memberi kesan massa yang tidak terlalu besar. Pada lantai mezzanine balkon-balkon diberdayakan untuk menambah kapasitas jemaat sebanyak 600 tempat duduk. Mengingat jalan di depan gereja terletak minus 1,2 meter dari permukaan laut, ruang ibadah utama gereja ditempatkan di lantai 2 agar tidak terdampak langsung jika banjir berkala datang.

Gereja Stella Maris termasuk Finalis World Architecture Festival 2015. Gereja Stella Maris juga pernah menerima The Australian Institute of Architect – International Architecture Commendation untuk Interior Architecture.


Budiman Hendropurnomo IAI FRAIA


DCM Jakarta