Oleh: Nana


Sejak awal abad 21, peran dunia digital mulai memasuki seluk beluk dari keseharian hidup manusia. Dimulai dari Revolusi Digital pada tahun 1980an, kehidupan digital semakin mengambil alih sendi kehidupan manusia. Seiring dengan itu, perkembangan social networking atau media sosial juga semakin pesat. Facebook, Myspace, Youtube, Twitter dan Pinterest menjadi aplikasi yang tak bisa lepas dari kehidupan generasi Milenial. Sedikit bergeser dari tujuan awalnya sebagai tempat untuk mencari relasi dan bersosialisasi secara online, media sosial sering pula digunakan sebagai ajang untuk promosi dan ruang showroom bagi para pelaku usaha.

Hal ini juga berlaku dalam dunia arsitektur. Penggunaan media sosial juga banyak berperan didalam dunia arsitektur masa kini. Banyak biro-biro arsitek menggunakan media sosial, khususnya Instagram sebagai ruang pameran hasil karya; mulai dari desain hingga karya terbangun.  Sebagai contoh, salah satu arsitek muda yang berasal dari Yogyakarta mengaku telah menggunakan media sosial khususnya Instagram sejak tahun 2012. Sebelumnya dia juga telah menggunakan Facebook sejak tahun 2006, namun dia berpendapat bahwa Instagram lebih banyak memberikan keuntungan bagi dirinya yang berprofesi sebagai arsitek. Instagram lebih mengutamakan visual dibandingkan narasi; sebuah pendekatan yang cocok bagi arsitek yang menggunakan banyak bahasa visual. ‘Facebook lebih cocok digunakan untuk edukasi dengan gambar sebagai pendukungnya. Sedangkan Instagram lebih cocok untuk visual branding,’ ujarnya.

Beberapa biro arsitek baru terlihat menggunakan Instagram untuk awal branding mereka. Instagram dinilai sangat membantu dalam memperkenalkan ide, mempermudah kolaborasi melalui komunitas dan pencarian rekan-rekan yang tertarik pada gagasan yang sama. Dengan menggunakan hashtag, sangat mudah bagi seseorang untuk menemukan akun ataupun referensi terhadap suatu hal tertentu seperti #arsitektur atau #arsitekturIndonesia. Beberapa biro arsitektur Indonesia yang menggunakan Instagram sebagai platform desain mereka antara lain MINT-DS, Bitte Design Studio, serta Ginanjar Ramdhani principal Architect dari GReATstudio. Tidak ketinggalan badan ataupun komunitas arsitektur pun turut aktif menggunakan platform ini, sehingga semakin memperkaya khasanah arsitektural di dunia Instagram. Akun iai_architect, iaijakarta, hdiijakarta, kasemarang merupakan contoh dari badan dan komunitas yang menggunakan Instagram sebagai wadah dalam dokumentasi karya, acara maupun pemberian informasi yang terkait dengan arsitektur.

Dari sisi efektifitas publikasi karya dan juga branding perusahaan, Instagram lebih banyak menawarkan keuntungan dibandingkan penggunaan website maupun sosial media lainnya seperti LinkedIn ataupun Facebook. Instagram memberikan ruang tampil bagi sebuah karya arsitektur. Adanya Instagram membuat masyarakat umum, khususnya generasi milenial sibuk mencari sudut-sudut yang menurut mereka instagramable. Dengan memberikan predikat ‘instagramable’ terhadap suatu ruang, secara tidak langsung, masyarakat mulai memberikan apresiasi terhadap suatu rancangan arsitektural, baik untuk interior, eksterior maupun penataan ruang luar. Upaya promosi arsitektural tidak lagi semata dari pemilik gedung atau perancangnya, namun juga dilakukan oleh penikmat ruang dan rancangan arsitektural.

Namun juga tidak dipungkiri, media sosial juga bukan sesuatu yang sempurna dan tanpa kekurangan. Instagram hanya dapat meningkatkan popularitas melalui postingan serta jumlah follower namun tentunya untuk menambah jumlah portfolio, masih diperlukan cara lain seperti relasi dan kemampuan bernegosiasi. Dengan kata lain, Instagram membantu dalam hal branding, tetapi tidak berimbas pada market shareSegala sesuatunya tetap kembali kepada kreatifitas dari arsitek dan tim untuk menghasilkan desain yang baik serta menjaga kualitas dari produk yang dihasilkan. (*)