Penghargaan IAI Jakarta 2015

Oleh Singgih Salim 
Editor Sylvania Hutagalung

Rumah Swadaya, mengacu pada namanya, mempunyai prinsip kemandirian yang kental, terutama dalam tata kelola energinya. Salah satu karya yang mendapatkan penghargaan utama dalam bidang hunian untuk Penghargaan IAI Jakarta 2015 ini dinilai memiliki keunikan dan memenuhi 13 butir kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang arsitek. Dewan juri untuk kategori hunian pada saat itu, diantaranya, Tan Tik Lam dan Faried Masduki, memberi pujian khusus terhadap karya ini. Kategori hunian juga turut dinilai oleh dewan juri utama seperti, Prof. Yandi Andri Yatmo, Ary Indrajanto, Eko Prawoto, Sardjono Sani, dan Wendy Djuhara. Nama besar dalam jajaran dewan juri memberi legitimasi lebih kepada karya arsitek Wiyoga Nurdiansyah dan Muhammad Sagitha dari SUB ini.

Beberapa hal yang unik dari Rumah Swadaya, yang dinilai bisa menjadi acuan kualitas perancangan rumah, salah satunya bisa dilihat dari pengolahan tapaknya. Rumah Swadaya ini didesain memanjang mengikuti tapak, Massa bangunan dibuat sederhana dan “mengambang” di lantai 2 dengan bentuk pelana. Pemanfaatan lahan tidak digunakan sepenuhnya untuk area hunian, akan tetapi juga dimanfaatkan sebagai area hijau dan area kolam renang. Konsep keterbukaan sangat ditekankan pada desain rumah ini, karena selain aspek estetika, konsep ini memungkinkan passive buildingbisa terjadi dengan alami.

Para juri juga menilai pemilihan bentuk dan eksplorasi bahan dalam konteks tropis merupakan nilai lebih dalam proyek ini. Keputusan desain untuk “mengangkat” massa bangunan, menciptakan rumah yang bernafas dan ringan. Kontinuitas dan keterbukaan pada bagian bawah menciptakan sebuah area yang luas dan lega.Penyelesaian desain dan detail bukaan juga memperkuat konsep ruang terbuka yang pada akhirnya menjadi ciri yang unik pada bangunan ini. Komentar ini sesuai dengan kompetensi kelima dari 13 butir kompetensi arsitek, yaitu hubungan antar manusia, bangunan, dan lingkungan.

Ada beberapa poin yang menjadi dasar pemberian penghargaan pada rumah ini. Pertama, SUB dengan cerdik memberi interpretasi baru pada bentuk atap pelana. Bentuk pelana yang identik dengan unsur tradisional diubah menjadi terlihat modern. Selain itu, rumah ini juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan, ekspresi dan bentuk lahan yang memang terbatas.

Kedua, kesadaran untuk memberi jarak dengan tetangga kanan dan kiri, serta kemampuan mengedukasi pemilik untuk menyisakan secara proporsional area terbuka untuk resapan air.

Ketiga, pemilihan geometri yang sederhana dengan penyelesaian detail yang baik, ketat, dan terjaga menjadikan rumah ini mudah untuk diduplikasi sebagai prinsip arsitektur rumah tinggal yang baik, tepat, dan sederhana. Bentukan geometri ini dapat menginspirasi masyarakat yang ingin membangun maupun merenovasi rumahnya. Seluruh poin penilaian ini sesuai dengan kompetensi kedua, yaitu solusi pengetahuan arsitektur.

Walaupun mendapatkan penghargaan dari para juri, mereka juga memberikan beberapa masukan untuk rumah ini. Tapak yang luas dan terbuka sesungguhnya memberikan potensi yang cukup besar untuk prinsip pendinginan pasif, akan tetapi tidak diterapkan dengan optimal. Rumah ini dinilai menggunakan terlalu banyak kaca mati untuk menutup lubang penghawaan. Hal tersebut menyebabkan tidak terjadinya persilangan aliran udara yang nyaman, walaupun cahaya alami tetap dapat masuk ke dalam ruangan. Selain itu, organisasi ruang dalam yang linier dianggap terlalu mudah untuk ditebak. Seharusnya susunan program dapat dibuat lebih imajinatif untuk memperkaya interaksi sosial antara penghuni rumah ataupun penghuni dengan tamunya.

Sebagai salah satu kebutuhan yang penting, selain nyaman, rumah sebagai unit hunian sebaiknya dapat menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan oleh penghuni rumah tersebut. Penciptaan susunan ruang yang berbeda di setiap rumah juga dapat memperkaya pengalaman ruang dan interaksi sosial antara penghuni maupun tamu rumah tersebut. Masyarakat, khususnya para arsitek diharapkan dapat terus menciptakan dan mengembangkan karya-karya rumah tinggal yang unik dan menarik, sehingga dapat memperkaya dunia arsitektur nasional. Pada akhirnya rumah diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia yang tinggal di dalamnya

*Foto diambil dari majalahasri.com dan arsitag.com