Oleh: Indah Cahyani

Hendaknya sebuah kota yang nyaman serta baik juga harus dapat menyediakan sebuah area terbuka yang sekaligus dapat berfungsi sebagai ruang komunal. Bagi penduduk Jakarta sepertinya sebuah ruang terbuka sudah menjadi sebuah kebutuhan dan sepertinya ruang ini masih sangat langka di Jakarta.

Keberadaan sebuah ruang terbuka di tengah kota selain berfungsi sebagai jalan masuk juga dapat sekaligus difungsikan sebagai tempat untuk bersosialisasinya anggota masyarakat. Selain itu keberadaan ruang terbuka juga dapat membuat lingkungan di kota menjadi lebih bersih dan sehat.

Berangkat dari kebutuhan inilah IAI Jakarta mengadakan acara Ruang Diskusi Duta IAI Jakarta #01 bertempat di Showroom Lixil – American Standard. Pada acara ini berkumpulah para duta IAI yang berkompeten untuk berbicara dan berdiskusi tentang masalah ruang terbuka.

Para Duta IAI yang hadir adalah Ardhi Jaya, IAI – Penerima Penghargaan IAI Jakarta 2017 Kategori Bangunan Publik, Peter Yogan Gandakusuma dan Murni Khuarizmi Penerima Penghargaan Apresiasi IAI Jakarta 2017 Kategori Penulisan/ Pemikiran Arsitektur, Himpunan Mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia – Penerima Penghargaan Apresiasi IAI Jakarta 2017 Kategori Pameran Arsitektur.

Saat ini ruang terbuka di Jakarta seolah-olah tersingkirkan oleh bangunan tinggi yang berpeluang untuk terciptanya sebuah kesenjangan sosial. Menurut Ardhi, salah satu hal yang membuat Kota Jakarta menjadi tidak nyaman adalah karena peraturan yang berlaku.

Memang dalam membuat atau mendesain sebuah ruang terbuka yang diperuntukan untuk masyarakat ada sedikit benturan. Benturan ini dapat berbentuk pro dan kontra. Adapun pro dan kontra ini berupa mana yang mau didahulukan yaitu apakah kreativitas atau regulasi ?

“Selama ini latar belakang dalam membuat regulasi adalah untuk mengekang atau berupa larangan. Sehingga regulasi yang ada saat ini justru dapat membatasi ide kreatifitas dari para arsitek,” ungkap Stevanus J. Manahampi, IAI – Ketua IAI Jakarta.

Seyogyanya sebuah regulasi harus dibuat dengan kreatif. Saat ini yang terjadi adalah regulasi yang ada justru membatasi ruang kreatifitas dari para arsitek untuk menciptakan sebuah ruang terbuka yang saat ini sebetulnya sangat dibutuhkan oleh masyarakat Jakarta.

Sedangkan dari sudut pandang masyarakat tradisional sebenarnya sebuah ruang terbuka justru mempunyai fungsi kontrol untuk masyarakat sekitarnya. Sehingga justru masyarakat tradisional lah yang menyadari akan arti transparansi sesungguhnya.

“Seperti perkampungan yang ada di kepulauan Nias, mereka mempunyai ruang terbuka yang dikelilingi rumah-rumahnya. Fungsi dari ruang terbuka ini adalah sekaligus sebagai kontrol, sehingga sebagai contoh misalkan ada anak muda yang ingin berkencan dengan kekasihnya maka mereka harus melewati bagian depan dan tidak dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi,” ungkap Murni.

Jadi memang jelaslah bahwa sebuah ruang terbuka ini mempunyai fungsi selain sebagai fungsi utamanya yaitu fungsi intrinsik berupa fungsi ekologis dan fungsi ekstrinsik yang berkaitan dengan sosial dan budaya.

Ruang terbuka untuk masyarakat perkotaan khususnya memang akan menjadi lokasi yang penting dan menarik. Bagi masyarakat perkotaan ruang terbuka dapat dijadikan sarana dan prasarana untuk melakukan kegiatan rekreasi, berinteraksi dan bersosialisasi.

Indonesia sangat banyak mempunyai tenaga arsitek yang sangat berkompeten untuk merancang sebuah kawasan yang sesuai bagi masyarakat. Hendaknya dalam meracang sebuah kawasan para arsitek profesional ini tidak melupakan untuk serta menata sebuah ruang terbuka juga.