Seminar dan ekskursi bidang pelestarian, revitalisasi dan perkotaan IAI Jakarta, merupakan rangkaian acara IAI Jakarta yang diselenggarakan dalam rangka melestarikan nilai sejarah, budaya dalam karya bangunan dan seni bina kota serta pelestarian aspek fisik bangunan cagar budayanya. Kegiatan ini rutin diadakan IAI Jakarta sebagai wujud kepedulian arsitek terhadap pelestarian nilai sejarah dan pelestarian benda cagar budaya. Acara ini merupakan wadah interaksi antar arsitek untuk aktif dalam mempelajari, merevitalisasi dan mendokumentasikan benda-benda cagar budaya yang berada di Jakarta.

Menurut  undang undang no.11 tahun 2010 salah satu pengertian cagar budaya adalah warisan  budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan karena memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan melalui proses penetapan. Sedangkan dalam proses penetapannya, kriteria usia benda cagar budaya setidaknya harus berusia 50 tahun. Hal ini menjadi pembahasan yang menarik dalam studi kasus pelestarian cagar budaya di Jakarta karena rata-rata benda cagar budaya yang berusia lebih dari 50 tahun hanya identik dengan peninggalan kolonial. Maka ada kebijakan khusus terkait status benda cagar budaya yang melibatkan karya anak bangsa yang berjaya pada masa setelah kemerdekaan dan belum berusia 50 tahun.

Kegiatan konservasi dan revitalisasi sering diidentikkan dengan usia benda cagar budaya yang tua, sehingga sebagian besar bangunan dengan status cagar budaya dan dikonservasi adalah bangunan yang dibangun pada masa kolonialisme dan masa kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di nusantara. Maka perlu pengenalan yang lebih baik untuk para arsitek untuk memahami kriteria lainnya untuk menentukan status sebuah benda cagar budaya dari signifikansi nilai sejarahnya. Seperti yang didefiniskan oleh UNESCO dalam "Konvensi mengenai Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia "1987, cagar budaya adalah kelompok bangunan terpisah atau terhubung, yang karena arsitekturnya, homogenitas mereka, menjadi tempat mereka dalam lanskap, memiliki nilai universal yang luar biasa dari sudut pandang sejarah, seni atau sains. Sehingga, jika kita melihat definisi di atas maka nilai universal dari sudut pandang sejarah, menjadi faktor yang penting untuk menentukan apakah  suatu bangunan layak menjadi cagar budaya.

Salah satu momentum sejarah yang penting bagi bangsa Indonesia adalah deklarasi kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus 1945. Momentum tersebut diikuti oleh pengukuhan keberadaan Indonesia sebagai negara merdeka dan pembangunan nasional yang sifatnya untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Masa tersebut diisi dengan berbagai hal, termasuk dengan redefinisi identitas bangsa Indonesia dalam perancangan bangunan dan seni bina kotanya. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno dengan slogan Nation and Character Buildingnya, mencoba mewujudkan hal ini dengan menginisiasi beberapa proyek besar (proyek mercusuar) sebagai langkah awal yang mengimbangi pencabutan karakter kolonialisasi dan memulai pembangunan kota. Proyek-proyek berskala besar seperti Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, Gedung MPR/DPR dikerjakan untuk memperlihatkan eksistensi bangsa Indonesia sebagai bangsa berdaulat dengan susunan organisasi pemerintahan dan rakyat yang siap berkarya dan berkolaborasi. Sedang pembangunan Masjid Istiqlal sebagai salah satu agenda proyek mercusuar, dinilai sebagai langkah pembangunan bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan hal yang paling esensial dari sistem kepercayaan dari mayoritas Indonesia adalah Islam. Dengan kata lain membangun Islam akan berdampak besar bagi pembangunan Indonesia secara keseluruhan. Sedangkan dalam proses pembangunannya, semua rakyat Indonesia dari golongan apapun, dipersilakan untuk terlibat. Maka dibukalah sayembara desain sebagai sarana partisipasi arsitek Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Hal inilah yang menjadikan karya arsitektur paling ikonik yang dibangun pada masa tersebut, dibangun dengan makna simbolis yang kuat, yaitu sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia.


WaktudanTempat 

Hari        : Minggu, 10 September 2017

Jam        :  09.00 WIB – 16.15 WIB

Lokasi    : Masjid Istiqlal, Jakarta

KUM: 6


RSVP di sini