Bedah Buku : Pedoman Praktik Profesi Arsitek - Memaknai Profesi Arsitek dengan Sesungguhnya


Oleh : Indah Cahyani Putri

Architecture is a visual art, and the buildings speak for themselves – Julia Morgan

Bila ingin jujur, selama ini di mata masyarakat awam profesi Arsitek sering dipandang sebagai multi interpestasi. Masyarakat awam selalu beranggapan bahwa seorang Arsitek adalah profil yang berpendidikan tinggi serta berada pada kelas menengah atas karena merupakan profesi yang dapat meraup pundi-pundi rupiah dengan nilai yang mahal !

Pendapat-pendapat masyarakat seperti inilah sekiranya yang hendak diluruskan dalam acara Bedah Buku : Pedoman Praktik Profesi Arsitek beberapa waktu yang lalu. Terbitnya Buku  Pedoman Praktik Profesi Arsitek akan membuka paradigma pemikiran masyarakat untuk memahami dan mengetahui definisi serta ruang lingkup seorang Arsitek sehingga dapat menjadi landas acuan agar masyarakat dapat memberikan penghargaan yang sama terhadap profesi Arsitek.

“Selama ini yang beredar di masyarakat masih sangat-sangat mis-informed, dimana yang paling sederhana adalah masyarakat masih beranggapan bahwa lulusan  sekolah Arsitektur dan mendapat gelar Sarjana Arsitektur sudah dapat menyebut diri sebagai Arsitek. Jelas terlihat bahwa Arsitek masih dianggap sebagai pekerjaan – tukang gambar dan bukan profesi,” ungkap Steve J. Manahampi, IAI – Ketua IAI Jakarta.

Lahirnya buku Pedoman Praktik profesi Arsitek ini hendaknya dapat dijadikan landasan atau standart di Ikatan Arsitek Indonesia sekaligus untuk melindungi profesi Arsitek bilamana terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan  ataupun konflik sehingga akan mendapatkan bantuan secara hukum.

Di dalam buku inilah akan tuntas membahas hal-hal yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas yaitu mengenai definisi, prosedur, ruang lingkup, hak serta tanggung jawab masing-masing pihak dalam sebuah hubungan kerja dalam rangka penggunaan jasa Arsitek secara lebih jelas dan lengkap.


Design & Build Simalakama

Selama ini masyarakat selalu mengartikan bahwa Design and Build adalah seorang yang berperan sebagai Arsitek sekaligus sebagai kontraktor. Sesungguhnya Design and Build diartikan sebagai  Designer dan Kontraktor yang saling bekerja sama. Pada prinsipnya tanggung jawab untuk memproduksi informasi dalam pengadaan jasa desain dan bangunan sangatlah bergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi.

“Desain and build merupakan salah satu tata cara pembangunan dan bukanlah sebuah sistem yang salah. Hendaknya harus terjalin sebuah integritas yang terjaga sehingg Arsitek tidak dapat di setir oleh kontraktor,” jelas Timmy Setiawan saat acara bedah buku.

Sebetulnya dalam hal Design and Build ini, Arsitek dapat memberikan masukan tentang seberapa banyak pekerjaan dan berapa banyak gambar kerja yang dibutuhkan sebelum menyetujui skema atau biaya. Sedangkan dalam hal ini hendaknya kontraktor juga dapat menambahkan penjelasan tentang metoda struktur, sumber produksi informasi, solusi teknis yang dibutuhkan, material dan sebagainya.

Sangat diharapkan dengan adanya buku ini maka pembagian jasa Profesi Arsitek dapat lebih jelas lagi karena selama ini dalam pembayaran pajak saja arsitek dikenakan hingga 4% sedangkan kontraktor hanya 2,5%. Banyak para Arsitek berharap bahwa kelak angka ini dapat berubah karena sesungguhnya Arsitek mempunyai peran yang cukup besar saat mengerjakan sebuah proyek Desain and Build.


Arsitek Harus ‘Asah Kapak’

Seorang Arsitek merupakan tenaga ahli yang memberikan kontribusi sangat penting dalam bidang perancangan bangunan. Oleh karenanya Arsitek harus selalu dapat bertindak secara professional dalam menjalankan perannya untuk merancang serta merekayasa sebuah bangunan.

“Hendaknya seorang Arsitek dapat selalu ‘asah kapak’. Ungkapan ini saya pergunakan karena perkembangan teknologi Arsitek di dunia ini sangatlah pesat dan seyogyanya sebagai seorang Arsitek jangan sampai ketinggalan dengan kemajuan teknologi di bidang Arsitek yang terus berkembang. Jadi, sebagai seorang Arsitek hendaknya jangan malas untuk terus belajar,” ungkap Wendy J. Djuhara, IAI pada acara yang sama.

Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan profesional Arsitek ini merupakan salah satu syarat penting agar dapat bersaing secara sehat di era globalisasi ini. Arsitek hendaknya mempunyai wawasan yang luas sehingga dapat menghayati serta menuangkan ide dan gagasannya secara teratur dalam sebuah kesatuan proses pembangunan yang sistematik.


Peran Arsitek dalam Proses Kreatif

Arsitek sebagai seorang individu yang mampu berperan dalam sebuah proses kreatif demi terwujudnya sebuah tata ruang serta tata massa yang berguna untuk memenuhi tatanan kehidupan masyarakat beserta lingkungannya. Mengapa ? Seorang Arsitek tentunya harus memiliki latar belakang atau dasar pendidikan Arsitektur dan atau setara sehingga dapat memiliki kompetensi yang diakui serta sesuai dengan ketentuan Ikatan Arsitek Indonesia sehingga dapat  melakukan pekerjaan sebagai profesi Arsitek.

Sebagai seorang Arsitek hendaknya dapat memenuhi kriteria profesionalisme yang tinggi. Hal ini diberlakukan mengingat tugas seorang Arsitek adalah lebih dari sekedar hanya mendesain sebuah bangunan. Saat ini yang sering terjadi adalah seorang Arsitek juga ikut terlibat dalam tahapan pembangunan sebuah proyek, mulai dari perencanaan sampai pada sentuhan penyempurnaan di tahap akhir.

Seorang Arsitek juga harus memperhatikan faktor hubungan antara karya arsitekturnya dengan lingkungan hidup, kenyamanan serta keselamatan manusia. Hal ini seperti yang tertera pada UIA Accord on Recommended International Standards of Professionalism in Architectural Practice dan UNESCO-UIA Charter for Architectural Education. Pada dokumen tersebut juga tertera Prinsip Profesionalisme Arsitek yang menjadi dasar pengembangan di dunia international.

It is not the beauty of a building you should look at, its the construction of the foundation that will stand the test of time – David Allan Coe