DESAIN POP-UP RUANG KREATIF INDONESIA WUJUDKAN MASYARAKAT KREATIF


Oleh : Indah Cahyani Putri

 

Akan selalu menjadi sebuah tanya tanya besar, bagaimana cara memanfaatkan lahan perkotaan yang terbatas tanpa harus menurunkan kualitas lingkungan serta tidak menghilangkan nilai-nilai manusiawi suatu masyrakarat ? Ternyata memang inilah yang selalu menjadi masalah pada sebagian besar kota-kota di dunia saat ini.

Tanpa harus melihat jauh-jauh ke negeri sebelah atau ke daerah lain, maka cobalah untuk melihat bagaimana kondisi Kota Jakarta. Tidak ada yang dapat melarang gelombang urbanisasi yang membuat Kota Jakarta menjadi begitu padat sehingga dapat mendatangkan berbagai permasalahan yang semakin kompleks.

Bila melihat secara lebih global lagi, Indonesia sebagai negara berkembang sedang menuju menjadi ke negara kelas menengah. Masyarakat Indonesia yang dahulu hidup pada daerah rural, maka lambat laun akan menuju ke daerah urban. Terlihat secara demografi sekitar 78 persen penduduk Indonesia di tahun 80-an masih tinggal di pedesaan.

Tentunya untuk menyikapi fenomena ini akan muncul berbagai gagasan dalam rangka pembangunan perkotaan yang pada intinya adalah untuk mengedepankan aspek berkelanjutan yaitu pembangunan yang berorientasi pada keseimbangan aspek ekonomi, sosial serta lingkungan.

Salah satu gagasan yang ingin untuk diwujudkan adalah sebuah sayembara untuk mendorong kota kreatif. Selama ini para profesional di bidang arsitektur yang selalu bergelut dengan ruang merasa ingin selalu dapat menyumbangkan ide serta gagasan untuk dapat menciptakan ruang yang kreatif yang tentunya  tidak menjadi kaku seperti yang selama ini dikenal.

Demi mewujudkan keinginan yang mulia ini maka PT. Lixil Indonesia dan IAI Jakarta dibawah Badan Sayembara Arsitektur, mengadakan SAYEMBARA GAGASAN DESAIN ARSITEKTUR DESAIN POP-UP RUANG KREATIF INDONESIA. Tentunya hasil sayembara ini nantinya dapat diwujudkan secara nyata sebagai sumbangsih untuk kepentingan pemerintah, pemerintah daerah setempat dan juga masyarakat umum.

Desain Pop-up Ruang Kreatif

Seyogyanya sebuah fasilitas ruang publik memang sejatinya dapat dimanfaatkan bagi khalayak umum atau masyarakat. Oleh karenanya nantinya desain Pop Up Ruang Kreatif Indonesia ini dapat memberikan masukan desain dan menjadi panduan dalam membangun fasilitas umum di area kawasan taman, rest area, ruang publik perkantoran, pariwisata bahkan di area wisata, misalkan bawah laut, pantai atau bahari alam.

Mengapa begitu  pentingnya memikirkan desain Pop-up ruang kreatif ini ? “Salah  satu hal yang membuat agak miris adalah bahwa ternyata misalkan di Jakarta kebutuhan akan ruang kreatif minimal 30 persen dan ternyata yang baru terpenuhi adalah hanya berada di angka 11 persen saja !”, ungkap Rachmad Widodo, IAI – Ketua Bidang Sayembara IAI Jakarta.

Widodo berharap kelak ide gagasan bangunan yang didesain dapat sejalan dengan visi dan misi dari PT. Lixil Indonesia dan IAI Jakarta. Adapun acuan desain Pop-up ruang kreatif ini haruslah dapat mudah dibongkar pasang, mudah dibawa dari satu tempat ke tempat lain, kesehatan, kenyamanan, berwawasan lingkungan, EcoIndustry, Green Building dan meningkatkan kenyamanan dan kekayaan gaya hidup.

Acuan-acuan tersebut dilatar belakangi  kondisi perkotaan yang  semakin hari semakin sesak. Urbanisasi yang  tidak dapat dicegah mengakibatkan kepadatan penduduk yang  semakin tinggi. Hal ini tentu kemudian berdampak pada permasalahan perkotaan yang semakin kompleks. Maka tak heran, keterbatasan lahan perkotaan, penurunan kualitas lingkungan hingga hilangnya nilai-nilai manusiawi akan menjadi masalah pada sebagian besar kota di dunia dewasa ini.

Selain itu hendaknya nanti bangunan yang di rancang dapat membantu pengunjung mendapatkan informasi tentang apapun hal yang dapat diinfokan ke masyarakat. Seperti untuk melihat perkembangan kota, perkembangan area bermain, pariwisata, gambaran singkat area destinasi wisata dan fasilitas umum lainnya.

Ruang Kreatif Harus Ramah Untuk Yang Berkebutuhan Khusus

Tentunya keberadaan sebuah ruang kreatif tidak hanya diperuntukan bagi mereka yang mempunyai fisik normal. Lalu bagaimana sebuah ruang kreatif nantinya juga dapat dinikmati oleh mereka yang berkebutuhan khusus ? Pada prinsipnya adalah bahwa hendaknya gagasan bangunan Pop Up Ruang Kreatif ini dapat digunakan oleh masyarakat luas.

“Saya berharap nantinya ruang kreatif-ruang kreatif yang kelak nanti dapat diwujudkan ini haruslah dapat mengakomodir untuk masyarakat yang berkebutuhan khusus. Misalkan yang paling sederhana adalah penggunaan toilet, hendaknya juga dapat dipergunakan untuk mereka yang berkebutuhan khusus,” tambah Widodo.

Walaupun nantinya ruangan kreatif ini akan dilengkapi dengan fasilitas teknologi tentunya harus mengarah pada unsur edukatif dan interaktif. Unsur edukatif dan interaktif ini tentunya juga harus dapat dirasakan serta digunakan juga oleh mereka yang berkebutuhan khusus.

Hendaknya kelak para arsitek dapat mendesain bangunan yang berorientasi Eco-Industry juga. Bangunan yang berorientasi  Eco-Industry adalah bagunan yang berlokasi di kawasan urban, plasa urban, destinasi wisata atau taman di mana kegiatannya dapat saling menunjang satu sama lain.

“Terpenting adalah bahwa kelak bangunan dapat melindungi lingkungan setempat dalam upaya untuk mengurangi limbah dan polusi, efisien terhadap berbagi sumber dayaseperti material, air, energi, infrastruktur, dan sumber daya alam dan mendukung tujuan pembangunan,”  ungkap Widodo.