Oleh: Ariko Andikabina, Erick Budi Yulianto, Astrid Susanti, Armeyn Ilyas, Ardes Perdhana


Ide awal instalasi ini beranjak dari pemikiran kami atas apa yang dapat diberikan oleh tanah Jakarta dalam perkembangan dunia membangun dewasa. Hal ini mendorong kami untuk memulai, menyusun data kecil dan sekedarnya untuk memberikan sedikit gambaran mengenai fakta yang terjadi sebelumnya hingga hari ini, agar kita dapat menyusun rencana mengenai apa yang perlu dilakukan untuk masa mendatang.

Jakarta sudah menjadi daerah tujuan, tidak hanya bagi manusia (yang akan menetap dan berkembang) tetapi juga menjadi tujuan bagi hampir seluruh sumber daya membangun. Bagai periuk yang sangat besar, Jakarta menjadi titik kumpul sejumlah besar bahan utama membangun. Mulai kayu kamper dari Singkil dan Barousa di Sumatera, kayu ulin dari Kalimantan atau kayu jati dari Cirebon dan Jepara. Sejumlah batuan juga berkumpul di Jakarta, seperti batuan andesit dari Bogor, marmer dari Ujung Pandang atau batu paras dari Jogja. Ada pula batu kapur dari Palimanan dan batu pualam dari Lampung. Pasir yang “singgah” di Jakarta juga beragam asalnya, ada yang datang dari seberang pulau seperti dari Bangka, ada yang berasal dari Mundu, Cirebon, adapun sejumlah besar pasir yang berasal dari sekitar Jakarta, seperti dari beberapa tempat di Bogor (Jonggol dan Parung).

Penggunaan bahan bangunan yang berasal dari tanah sebagai bangunan hunian tidak berasal dari budaya membangun kita. Perkenalannya dimulai sejak masa penjajahan. Untuk membangun rumah atau bangunan hunian lainnya, masyarakat kita terbiasa menggunakan kayu dan bambu sebagai material dasar. Penggunaan batu dan bata biasanya tidak digunakan untuk membangun rumah, tetapi digunakan untuk bangunan publik seperti gerbang kota, tempat pemandian atau candi.

Masyarakat kita mulai akrab dengan tanah sebagai material dasar membangun rumah sejak Belanda mengimpor bata dari negeri mereka. Awalnya, bata dikirim dari benua lain untuk membangun benteng-benteng pertahanan mereka, untuk melindungi jalur perdagangan dan memonopoli rempah Indonesia di pasar Eropa. Lambat laun, bata digunakan pula sebagai bahan utama membangun rumah, dengan teknik membangun yang serupa dengan di Belanda. Sebuah teknik membangun yang relatif baru atau tidak umum untuk membangun rumah pada waktu itu, ternyata tetap akrab dengan kita hingga hari ini.

Sebelumnya, masyarakat kita sangat mengenal cara membangun kering. Hal ini dapat kita temui dari beragamnya variasi pembendaharaan sistem sambungan kayu atau bambu, baik berupa sambungan pasak atau sambungan ikat. Namun penggunaan bata sebagai material pengisi utama menyaratkan metode membangun basah, dimana pada metode ini penggunaan air dan bahan perekat berupa pasir, kapur (kemudian semen) menjadi sangat vital. Dan dimulailah era penggunaan bahan bangunan yang berasal dari hasil penambangan, hingga hari ini.

Sebagai ibu kota, Jakarta berkembang (dan akan terus berkembang) dengan segala kebutuhannya. Tentunya, tuntutan sebuah kota berkembang adalah tersedianya sejumlah besar sumber daya untuk membangun. Apabila kita menggunakan data BPS periode tahun 2000 hingga 2014 saja, berdasarkan data IMB yang dikeluarkan, kita dapat mengetahui informasi bahwa telah terjadi perkembangan jumlah luas bangunan sebesar 174 juta m2. Dengan menggunakan rumus rasio beton 0.35 m3 pada setiap m2 luas bangunan, maka kita akan mendapatkan gambaran umum atas volume pasir yang sudah ditambang untuk memenuhi kebutuhan membangun Jakarta selama periode tersebut, setidaknya setara dengan 61 juta m3. Dan seperti yang dapat kita prediksi, jumlah ini akan terus meningkat di masa mendatang apabila kita tidak melakukan sesuatu terhadap hal tersebut.

Sebagai hasil tambang, pasir merupakan salah satu hasil bumi yang memiliki jumlah penggunaan paling signifikan sebagai bahan bangunan, karena pasir merupakan agregat utama yang digunakan untuk beton dan plester serta digunakan juga menjadi produk turunan seperti sejumlah lokasi di sekitar Jakarta berubah menjadi tambang galian untuk memenuhi kebutuhan pasir sebagai tuntutan dari berkembangnya kota Jakarta. Kegiatan melubangi bumi untuk mencari pasir juga mungkin belum akan berhenti karena kebutuhannya terus-menerus datang.

Lalu apakah kita akan diam saja dengan kondisi ini? Tidakkah kita sebagai salah satu pelaku yang terlibat di dalam perkembangan dan pembangunan kota, perlu resah dan bertanya-tanya?

  • Apakah akan selamanya kita menambang pasir?
  • Apa mungkin sudah saatnya kita mencari pasir alternatif yang tidak ditambang?
  • Lalu apa perlu kita perbaiki situs penambangan pasir yang terdahulu?
  • Apakah mungkin mencari pasir alternatif dan memperbaiki situs tambang dilakukan secara bersamaan?

Kami yakin pasti masih ada sederetan pertanyaan lain yang timbul. Deretan pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak kami untuk melihat kembali apa saja potensi yang bisa kita kembangkan di kemudian hari dan hal-hal apa saja yang harus kita lakukan selanjutnya.

Preseden-preseden kecil kami kumpulkan melalui pencarian internet, sebatas untuk membuat proyeksi sederhana atas apa yang mungkin akan terjadi di Jakarta 100 tahun ke depan, dan bagaimana kiranya kondisi jagad perpasiran ini pada masa itu.

Penelusuran kami membuahkan beberapa temuan menarik, seperti penggunaan bubur kertas sebagai pengganti pasir dan semen [1], pemanfaatan bakteria tertentu dalam memperbaiki beton [2], penggunaan jamur sebagai pengganti bata dan beton sebagai material bangunan [3]. Kami juga menemukan banyak referensi yang mengarahkan bahwa masa depan pasir adalah bio, yang berasal dari tetumbuhan. Mungkin saja penambangan pasir di masa depan tidak akan lagi berupa kegiatan gali-menggali, tetapi berubah menjadi kegiatan tanam-menanam?

Ada optimisme yang tumbuh di dalam diskusi, juga harapan-harapan baru yang timbul. Kegiatan memperbaiki dan menanami tambang lama sudah tidak lagi menjadi kegiatan heroik semata, namun juga akan menjadi kegiatan ekonomi. Mungkin itulah bentuk tambang baru di masa depan.

Untuk mencapainya, diperlukan sebuah kerangka regulasi baru yang mengatur penggunaan bahan bangunan lama berbasis tambang yang kandungannya semakin berkurang, menuju bahan bangunan baru yang bisa diperbarui. Jika pada tahun 2011 Jakarta berhasil memaksa pemilik dan pelaku konstruksi bangunan gedung untuk “diet karbon” melalui Pergub No. 38 tahun 2011, maka mungkin saat ini sudah saatnya kita memikirkan untuk “diet pasir”. Inovasi-inovasi baru serupa ini memerlukan perangkat aturan yang memungkinkan mereka untuk berkembang dan bersaing. Misalnya dengan menerapkan peraturan yang mensyaratkan bahwa setiap bangunan harus mengurangi penggunaan kadar pasirnya sebesar 5%. Kadar persentase ini kemudian dinaikkan sebanyak 5% setiap 5 tahun, sepertinya bukan hal yang mustahil jika pada tahun 2117 penggunaan pasir pada pembangunan di Jakarta berubah menjadi 0%.

Bisa jadi pula ketika kita berbicara “tanahku” dalam konteks membangun dan materialitas, kita tidak lagi menggali untuk mencari apa yang terkandung di dalamnya, namun kita mencari peluang akan apa yang dapat tumbuh di atasnya. Wallahu a’lam bishawab.

  


Referrensi:   
 [1] https://www.researchgate.net/publication/266503174_Utilization_of_Waste_Paper_Pulp_by_Partial_Replacement_of_Cement_in_Concrete
[2]  http://thefutureofthings.com/4952-bioconcrete-self-healing-concrete/
[3]  https://www.mycote.ch/