Oleh: Erlyana Anggita Sari

Indonesia merupakan sebuah bangsa yang unik dengan berbagai macam ragam budaya dan sejarah. Dari sisi arsitektur, Indonesia sangat kaya dengan berbagai macam ragam. Mulai dari arsitektur tradisional sampai dengan arsitektur hasil akulturasi kebudayaan. Di antaranya adalah keberadaan Kampung Cina atau Pecinan.

Kehadiran masyarakat Tionghoa atau Cina di Indonesia dapat dirunut jauh sejak berabad-abad lampau. Berkembangnya k erajaan-kerajaan di Nusantara membuat para imigran dari Tiongkok berdatangan, khususnya untuk melakukan aktivitas perdagangan. Permukiman-permukiman masyarakat Tionghoa pun bermunculan dan kelak kemudian dikenal dengan sebutan Pecinan. Sebagai suatu kawasan permukiman, perpaduan pun terjadi dari interaksi antara budaya lokal dengan budaya yang dibawa dari daratan Tiongkok. Di era saat ini pun, kentalnya perpaduan budaya ini tampak jelas pada bentuk bangunan di kawasan ini. Seperti pada masjid Jami Kali Pasir di kawasan Pasar Lama, Tangerang yang mengambil bentuk pagoda untuk menaranya. Ataupun pada bentuk rumah tinggal di Lasem yang mengambil pembentukan ruang berdasarkan jian[1] dan bentuk atap lengkung. Bentuk atap arsitektur TIonghoa sendiri ada beberapa macam, namun yang  banyak digunakan adalah atap pelana dengan ujung yang melengkung ke atas yang disebut sebagai model Ngang Shan.  

Masjid Jami'Kali Pasir

Sumber Gambar 1

Rumah tinggal di Lasem

Sumber Gambar 2

Memasuki sebuah Pecinan serasa memasuki sebuah dunia baru.Sebagai contoh ketika seseorang berkunjung ke daerah Semawis di kota Semarang, mereka dapat merasakan nuansa Cina yang kental. Sembari mencicipi jajanan lumpia yang melegenda di Gang Lombok, pengunjung dapat melihat replika kapal laksamana muslim Cheng Ho di Kali Semarang mengunjungi kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng ini merupakan salah satu kelenteng terbesar di kota Semarang. Penggunaan ornamen ragam hias serta warna emas dan merah pada kelenteng ini menunjukkan kekhasan arsitektur Tionghoa di Indonesia. Pada malam hari, daerah Semawis menjelma menjadi sebuah area kuliner malam. Sembari menikmati hidangan dan duduk di tenda, pengunjung dapat mendengarkan alunan music Tionghoa, dan melihat lampion-lampion yang bergelantungan dengan latar belakang bangunan-bangunan khas Pecinan.

Daerah Semawis

Gang Semawis

Sumber Gambar 3

Lumpia Gang Lombok

Sumber Gambar 4

Hal yang hampir serupa dapat dijumpai pula di Jakarta, tepatnya di area Petak Sembilan kawasan Kota Tua. Pada hari-hari perayaan etnis Tionghoa seperti Imlek dan Cap Go Meh, area ini dipadati oleh pengunjung yang ingin sembahyang maupun sekedar menikmati suasana. Aroma khas yang tercium di sepanjang jalan berasal dari dupa atau hio yang dibakar di sejumlah rumah. Beberapa toko menjual pernak-pernik aksesoris Imlek dan peralatan sembahyang. Di antaranya ada yang masih mempertahankan gaya arsitektur Tionghoa dengan papan nama kayu bertuliskan aksara Cina serta fasad bangunan kayu yang dihiasi beberapa ornament Cina. Di area ini terdapat empat wihara yang berdekatan, yaitu Vihara Kim Tek Le, Vihara TeeTju Kong, ViharaTee Tjeong Ong Poo dan Vihara Hui Tek Bio.

Petak Sembilan

Sumber Gambar 5

Sayangnya, kawasan Pecinan di Indonesia tidak terlalu dilihat sebagai kekayaan budaya arsitektur. Banyak bangunan di kawasan tersebut mengalami perombakan mengikuti gaya bangunan masa kini dengan mengatas namakan ‘modernisasi’. Tidak terbersit bahwa bangunan-bangunan tersebut menyimpan kekayaan arsitektur yang luar biasa. Terdesak dengan pembangunan kota yang cepat, arsitektur kawasan Pecinan pun tidak terdokumentasi dengan baik. Bangunan-bangunan yang masih memiliki bentuk arsitektural asli berada dalam kondisi yang kurang terawat. Padahal jika diolah dan dijaga dengan baik, kawasan Pecinan bisa menjadi obyek yang menarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. (*)

Di Jakarta, alternatif untuk menikmati kawasan Pecinan dapat dilakukan dengan mengikuti walking tour yang disertai oleh tour guide. Anda bisa melihat informasi dan pendaftarannya di jakartagoodguide.wordpress.com 

Cap Go Meh 2018 akan jatuh pada tanggal 2 Maret 2018, berbagai kegiatan selebrasi akan diselenggarakan dan dapat Anda lihat di artikel ini http://jakartaglobe.id/features/cap-go-meh-celebrations-jakarta/ 

 

[1] Jian adalah suatu ruang persegi empat yang dibatasi oleh dinding atau kolom yang merupakan satu modul struktur dan berfungsi sebagai pembatas ruang.


Gambar Cover : Dokumentasi oleh Liang Thay Siek