Oleh: Erlyana Anggita Sari


Setiap tanggal 10 November, Indonesia merayakan Hari Pahlawan untuk mengenang pertempuran di Surabaya yang menewaskan ribuan pejuang Indonesia. Julukan Pahlawan pada kala itu dilihat sebagai seseorang yang rela mengorbankan nyawa bagi bangsa dan negara. Pada era masa kini, pemahaman tersebut mengalami perubahan sesuai dengan kondisi yang ada. Menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah media terkemuka, nilai-nilai kepahlawanan yang melekat di benak masyarakat Indonesia masa kini adalah cinta tanah air, rela berkorban dan berani[1]. Ketiga nilai ini masih dianggap relevan, walaupun  tentunya dengan tantangan yang berbeda dengan masa terdahulu.  

Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keberagamannya, baik dari ragam hayati, budaya, suku, ras maupun agama. Keberagaman ini, khususnya keberagamaan sosial budaya, merupakan hasil dari jalinan sejarah serta interaksi yang terjadi sejak peradaban masa lalu. Hal ini dapat dilihat sebagai kelebihan ataupun sebagai tantangan. Sebagai salah satu cara untuk menyikapinya, adalah dengan memandangnya dari sudut pandang positif dan mengambil sebuah sikap yang memperkuat kesatuan bangsa, yaitu toleransi.

Ada sebuah karya arsitektur ikonik di Indonesia yang mampu menangkap semangat toleransi ini. Karya tersebut adalah Masjid Istiqlal rancangan Frederich Silaban. Masjid ini didirikan di Taman Wilhemina, sebuah lokasi pilihan Ir. Soekarno yang menjabat sebagai Presiden Indonesia kala itu. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan kedekatan lokasi dengan Istana Negara dan juga dikarenakan keinginan Soekarno yang ingin agar Masjid Negara Indonesia ini berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta sebagai lambang toleransi antar umat beragama sesuai dengan Pancasila. 

Konsep yang diusung oleh F. Silaban saat merancang Masjid Istiqlal adalah Ketuhanan dengan merujuk pada kesesuaian dengan iklim Indonesia dan apa yang dikehendaki orang Islam terhadap sebuah masjid. Pembangunannya dimulai pada 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Makna nama Istiqlal sendiri berasal dari bahasa Arab yang secara harafiah berarti ‘kebebasan, lepas, merdeka’. Masjid Istiqlal memiliki kubah bergaris tengah 45 meter, sebagai simbol dari tahun kemerdekaan Indonesia, yang ditopang oleh 12 pilar raksasa. Masjid ini memiliki 5.138 tiang pancang serta menara setinggi 6.666 sentimeter, sesuai dengan jumlah ayat Al Quran. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini memiliki kapasitas 20.000 umat. Air mancur besar yang melambangkan ‘tauhid’ dibangun di bagian barat daya dan hanya diaktifkan setiap hari Jumat menjelang salat Jumat atau pada hari rada dan hari penting keagamaan Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, dan Isra Miraj.

Setelah Masjid Istiqlal selesai dibangun pada tahun 1978, F. Silaban mengatakan, “Arsitektur Istiqlal itu asli, tidak meniru dari mana-mana, tetapi juga tidak tahu dari mana datangnya.”  F. Silaban yang merupakan penganut agama Kristen Protestan ini merupakan arsitek generasi awal Indonesia yang turut berperan dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Beberapa karya dari F. Silaban selain Masjid Istiqlal antara lain Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monumen Nasional serta Kantor Pusat Bank Indonesia. 

Keberagaman Indonesia merupakan suatu aspek yang harus dirangkul sebagai bagian Indonesia. Dengan toleransi, maka kesatuan bangsa dapat terus dijaga. Makna kepahlawanan sebagai seseorang yang cinta tanah air, berani dan rela berkorban dapat diwujudkan melalui banyak hal. F. Silaban pun bisa menjadi seorang pahlawan yang menciptakan suatu simbolisme persatuan melalui karyanya, arsitektur yang menyatukan. (*)




References:

 [1] Diambil dari Jajak Pendapat Kompas, http://nasional.kompas.com/read/2016/11/08/05280001/arti.kepahlawanan.pada.masa.kini

Image Source: Wikimedia