Jakarta - Bantaran sungai sering kali terlihat kumuh. Padahal kawasan tersebut berpotensi jadi ruang publik atau tempat rekreasi, misalnya menjadi area piknik.
Menurut Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, bantaran sungai bukan sekadar infrastruktur kota, melainkan juga ruang hidup warga. Oleh karena itu, bantaran sungai perlu dirancang, dikembangkan, dan dikelola secara lebih profesional agar menjadi ruang publik yang menyenangkan bagi warga untuk berkumpul, beraktivitas, dan berekreasi.
"Sangat disayangkan kalau potensi bantar sungai yang begitu luas dan bagus tidak kita manfaatkan dan kelola lebih baik sebagai ruang publik di perkotaan," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (6/9/2026).
Selama ini, bantaran sungai di Jakarta umumnya belum menjadi ruang publik yang menyenangkan, bahkan cenderung semrawut, kumuh, dan minim perancangan serta pengelolaan yang baik. Menurut IAI Jakarta, bantaran sungai berpotensi besar menjadi ruang publik yang asyik, lokasi berkegiatan yang seru, hingga destinasi piknik warga yang berkesan, asalkan dirancang, dikembangkan, dan dikelola dengan baik sesuai karakteristik lokasinya.
"Jakarta dilintasi 13 sungai. Panjang setiap sungai puluhan kilometer. Ini potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang publik dan destinasi piknik yang asyik. Festival ini digelar sebagai pancingan ke arah itu," kata Teguh.
Festival Arsitektur Bantar Sungai 2026 ini diadakan di WEIR KBT (Pintu Air Kanal Banjir Timur), Jakarta Timur pada 3-6 September 2026. Festival ini digelar untuk mendorong para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah, agar memanfaatkan bantaran sungai sebagai ruang publik yang nyaman dan menyenangkan bagi warga kota.
Dalam kesempatan yang sama Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Jakarta Timur Fauzi mengungkapkan bahwa area bantaran sungai di WEIR BKT sudah dikembangkan cukup baik dan nyaman, serta selama ini telah banyak dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, mulai dari lomba lari BKT Run, pameran botanical farming, hingga event Dursa (Duren Sawit) Vaganza yang digelar setiap tiga bulan.
Ia menyambut baik Festival Arsitektur Bantar Sungai yang berupaya mendorong pengembangan bantaran sungai sebagai ruang publik kota, mengingat bantaran sungai tipe KBT hanya terdapat di Jakarta Timur.
"Saya mau ajak IAI Jakarta bertemu wali kota, membicarakan lebih lanjut pengembangan bantar sungai di KBT sebagai ruang kota," ungkap Fauzi.
Dalam festival tersebut, terdapat talk show arsitektur, pameran rancangan area bantar sungai serta rumah sehat, Architect Goes to School, A(run)chitecture, sampai konsultasi arsitektur gratis.